Konflik Rusia-Georgia Mempengaruhi Timur Tengah

oleh Rayyan al-Shawaf
12 September 2008
Cetak
Email
Beirut – Rusia yang dipojokkan oleh Barat takkan pernah memaafkan anggota NATO Turki. Sebagai hasilnya, hubungan Rusia-Turki akan terjungkir. Rusia mungkin bahkan berhenti memberikan bahan bakar alami untuk Turki. Dalam mencari sekutu, Rusia dapat menemukan Iran yang sama-sama terisolasi untuk menerima memberikan dimensi strategis bagi kedua negara, tapi hanya untuk konsesi politik dan ekonomi. Karenanya, krisis Rusia-Georgia mungkin secara ironis mengubah kekuatan di Timur Tengah.

Baik Rusia dan Iran telah kian waspada dengan upaya Barat untuk mengabaikan mereka dalam pencarian minyak. Moskow menginginkan saluran pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC), pipa terpanjang kedua dunia, melewati Rusia. Dengan demikian, Rusia tidak hanya akan mendapat keuntungan secara finansial, tapi juga mampu menggunakan sebagian kendali atas pasokan minyak ke Barat, seperti pada saluran pipa terpanjang di dunia, Druzhba, yang mengalir dari tenggara Rusia ke Eropa. Selama invasi Georgia, Rusia menunjukkan bahwa ia dapat mengancam pipa saluran BTC, dan bahwa, seperti yang dikatakan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, “Rusia adalah bangsa yang patut diperhitungkan.”

Sementara itu, Iran, yang sebagian besar minyaknya mengalir ke Asia, telah lama menginginkan saluran pipa ke Barat, keinginan yang kerap dibuat putus asa oleh sanksi Barat. Dengan mendukung Rusia dalam konfrontasinya baru-baru ini dengan Barat, Teheran dapat mengamankan hasil ekonomi dan politik di masa depan. Ini benar jika Iran mengekstrak komitmen dari Rusia untuk menemukan strategi minyak bersama melawan Barat.

Namun, bahkan tanpa kemungkinan ini, ada beberapa indikator keuntungan untuk Iran yang mungkin tumbuh sebagai hasil dari kebijakan pro-Rusia. Misalnya, permintaan masyarakat Iran (dan Suriah) akan sistem pertahanan misil yang canggih ditanggapi serius di Moskow, dengan rasa penyesalan dari AS dan Israel. Jika orang ingat bahwa pabrik nuklir Bushehr Iran – dibangun dengan dukungan Rusia – dicanangkan akan mulai beroperasi pada 2009, maka besar kemungkinan Iran akan segera meningkatkan posisi regional dan internasionalnya secara radikal.

Bahkan saat Iran membuat tawaran untuk status regionalnya, Turki nyaris tanpa sengaja muncul sebagai negara yang dapat memegang kunci penyelesaian krisis Rusia-Georgia. Memang, Turki memiliki posisi bagus sebagai mediator, sebuah peran yang sudah dimainkan dengan beberapa kesuksesan antara Suriah dan Israel, dan sedikit antara Iran dan Barat. Rusia adalah rekan dagang terbesar Turki, dan Turki tergantung pada gas alam Rusia.

Pada saat yang sama, Turki mempertahankan ikatan ekonomi dan militer yang kuat dengan Georgia, yang igin bergabung dengan NATO, yang Turki sendiri merupakan anggota strategis. Turki tidak dapat membiarkan hubungannya dengan Rusia memburuk – mereka sudah tegang oleh lewatnya kapal-kapal Amerika melalui Bosphorus dalam perjalanan ke pelabuhan Georgia Batumi – tapi hal itu tak dapat mengelakkan panggilan Barat untuk mendukung Georgia. Sebagai akibatnya, menengahi konflik saat ini bukan saja peran yang dapat mendorong Turki ke pusat perhatian sebagai pemain besar regional, tapi juga sebuah kebutuhan, sejauh berkenaan dengan kepentingan politik-ekonomi Turki.

Jika Turki memenuhi tantangan itu, mungkin akan ada keuntungan tambahan. Hubungan Turki-Armenia bisa mencair, yang amat besar signifikansinya terhadap industri minyak dan gas alam. Rute darat yang paling langsung untuk saluran pipa minyak dari Lautan Kaspia ke Turki akan dimulai di Azerbaijan dan melewati Armenia. Namun belum ada saluran seperti itu yang pernah dibangun, dikarenakan ketidakstabilan politik: Azerbaijan dan Armenia berperang atas Nagorno-Karabakh dan tetap berselisih, sementara perbatasan Turki dengan Armenia telah ditutup sejak 1993 sebagai solidaritas dengan Azerbaijan.

Dengan perselisihan Rusia-Georgia yang menggambarkan kerentanan Georgia, tempat saluran pipa BTC itu lewat, kepentingan Armenia pun meningkat. Presiden Turki Abdullah Gul, pada kunjungan inovatifnya pekan lalu ke ibukota Armenia, Yerevan, untuk pertandingan sepakbola Turki-Armenia, berbicara tentang perlunya negara-negara Kaukasia untuk bekerjasama dalam meningkatkan kestabilan.

Di titik ini, Turki mengusulkan pembentukan kelompok kerjasama regional yang terdiri atas Turki, Rusia, Georgia, Armenia dan Azerbaijan.

Lintasan konflik Rusia-Georgia selama beberapa bulan berikutnya mungkin kritis dalam menentukan apa yang terjadi di Timur Tengah. Jika mediasi berhasil membawa kedua pihak bersama dan meredam krisis, Rusia tidak akan merasa penting untuk beralih ke Iran. Jika penengah yang berhasil adalah Turki, maka Turki akan mendemonstrasikan kemampuan unik untuk membawa kestabilan ke Kaukasia, menjadi perantara pembicaraan damai Suriah-Israel, dan menjadi penengah antara Iran dan Barat.

Di pihak lain, jika konflik berlanjut, Rusia terikat ke Barat dan posisi Turki akan memburuk. Menghadapi isolasi diplomasi, atau bahkan sanksi, Rusia mungkin membentuk aliansi strategis dengan Iran, dengan demikian meningkatkan pengaruh Iran secara drastis di Timur Tengah.

Meski perselisihan militer Rusia-Georgia tampaknya berakhir, ramifikasinya akan terasa lama, terutama karena krisis politik antara kedua negara tetap tak terselesaikan. Di Timur Tengah, dua negara besar, Turki dan Iran, telah terpengaruh secara langsung oleh peristiwa baru-baru ini. Sementara Turki akan kalah jika Rusia dan Georgia gagal menyelesaikan perbedaan mereka, Iran akan menang.

###

* Rayyan al-Shawaf adalah penulis freelance dan reviewer berbasis di Beirut. Dia menulis komentar ini untuk The Daily Star. Artikel ini didistribusikan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.

Sumber: Daily Star, 9 September 2008, www.dailystar.com.lb
Telah memperoleh hak cipta.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Baik bagi para ahli maupun pembuat kebijakan, berbagai materi tentang Timur Tengah yang dihasilkan oleh Search For Common Ground sangat menonjol. Jika orang mencarik analisis yang seimbang dan mendalam, ini adalah tempat untuk memperoleh sebuah pengertian yang lebih baik tentang kerumitan Timur Tengah kontemporer."

- Dr. Robert O. Freedman, Profesor Ilmu Politik pada Peggy Meyerhoff Pearlstone, Baltimore Hebrew University dan Dosen Tamu Ilmu Politik pada Johns Hopkins University
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Teror Bukanlah Cara Islam
~Pandangan Kaum Muda~ Dakwaan Omar el-Bashir: Sebuah Preseden untuk Akuntalibitas Global?
Tantangan Suku Asli Pakistan
Bahrain: Generasi Baru, Tantangan Baru
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Teror Bukanlah Cara Islam oleh Husnul Amin
~Pandangan Kaum Muda~ Dakwaan Omar el-Bashir: Sebuah Preseden untuk Akuntalibitas Global? oleh Danny Kaysi
Tantangan Suku Asli Pakistan oleh Ziad Haider
Bahrain: Generasi Baru, Tantangan Baru oleh John Defterios